Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

44

Nasehat Emas  Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan hafidhahulloh

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini tersebar aba’ah (yakni: jilbab, pent) yang dinamakan ‘Aba’ah Islamiyyah’ yang dikenakan dari atas kepala, akan tetapi ia memiliki lengan dari tangan sampai ke bahu. Bagaimana pendapat syaikh tentang memakai aba’ah semacam ini?

 

Jawaban:

Yaa ikhwan, jilbab itu tujuannya untuk menutupi bukan untuk berhias. ia bukanlah perhiasan dan tidak boleh digunakan untuk berhias atau diberi bordir-bordir atau lukisan, atau dibuatkan lengan sehingga jadi seperti baju (lengan panjang, pent). Yang seperti ini bukanlah jilbab tapi baju.

Jilbab itu tujuannya untuk menutupi, menutupi seluruh badan wanita, seperti selimut yang besar yaitu jilbab. Tujuannya adalah untuk menutupi dan bukan untuk berhias.

Bahkan tujuannya adalah untuk menutup diri dari berhias di hadapan laki-laki (ajnabi), maka tidak boleh menghiasi jilbab. Ia diberi embel-embel ‘Islami’ supaya laris, padahal ini tidak Islami! Ini hanya supaya laris saja.

Jilbab yang Islami itu adalah jilbab yang menutupi, lebar dan panjang serta tidak terdapat lukisan, bordiran dan hiasan-hiasan, jilbab Islami itu adalah yang sederhana dan tidak ada hiasan-hiasannya. Na’am.

 

Tim Redaksi Radio Majas 91.9 FM

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/3192

 

Nasehat Emas Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah

Pertanyaan:

Fadhilatus syaikh, sangat disayangkan telah tersebar di kalangan para wanita jilbab yang dihias-hiasi dengan bordir dan begitu pula cadar lebar (yakni seperti cadar yg tidak menutupi dahi & alis, pent). Bagaimana nasehat anda bagi mereka para wanita dan para wali mereka?

Syaikh berkata:

Na’am, aku katakan: wanita diperintahkan untuk menutupi dirinya, menjauhi tabarruj dan mereka diperintahkan untuk memiliki rasa malu. Dan rasa malu itu adalah bagian dari keimanan dan akhlaknya para wanita, sampai-sampai ada perumpamaan tentang laki-laki yang pemalu: “ia lebih pemalu daripada seorang gadis yang dipingit”.

Dan mereka diperintahkan untuk menjauhi tabarruj, sampai-sampai Alloh azza wa jalla berfirman:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin menikah lagi, tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud tabarruj dengan menampakkan perhiasan” [QS an-Nur : 60]

Al-Qowaid disini adalah wanita-wanita tua yang sudah tidak ada keinginan nikah dikarenakan tuanya usia mereka, yakni sudah tidak adalagi laki-laki yang ingin menikahi mereka, Alloh azza wa jalla mensyaratkan jika mereka ingin menanggalkan jilbab mereka yaitu dengan tidak menampakan perhiasan. Yang dimaksud menanggalkan jilbab disini adalah pakaian luarnya saja dan bukan berarti menanggalkan seluruh pakaiannya, karena Alloh mensyaratkan dengan tidak bertabarruj dengan menampakkan perhiasan.

Maka Alloh azza wa jalla mensyaratkan dalam bolehnya menanggalkan pakaian luar adalah dengan tidak bertabarruj, sedangkan wanita tersebut sudah tua, tidak memiliki syahwat dan tidak ada lagi laki-laki yang ingin menikahinya, apalagi dengan seorang gadis yang bertabarruj?

Kita mohon hidayah kepada Alloh untuk semuanya…

 

Tim Redaksi Radio Majas 91.9 FM

Sumber: Rekaman Fatawa al-Harom an-Nabawi no. 66b menit ke 20:43 s/d selesai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Artikel, Info, Kajian Ilmiah, Nisa'

Leave a Reply


  • Radio Streaming