Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

19

Alhamdulillah  dan shalawat serta salam kepada Rasulullah,sahabat,keluarga dan pengikut-pengikut setia mereka hinngga hari akhir, amma ba’du:

Dalam masalah melubangi telinga kaum wanita (tindik), para ulama’ berselisih pendapat menjadi 2  pendapat yang masyhur:

Pendapat  pertama:

Pendapat ulama’ Hanafiyah dan Hambaliyah, mengatakan bolehnya perbuatan ini.

Pendapat  kedua:

Pendapat ulama’ Syafi’iyah, Ibnu Jauziy dan Ibnu Aqil mengatakan tidak bolehnya perbuatan ini.Alasan pendapat ini adalah:

1.Menyakiti anak yang ditindik

2.Bukan merupakan perhiasan yang dharurat sehingga diperbolehkan menyakiti anak dengannya.

 Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama,  berdasarkan argumentasi  berikut:

1.Tidak ada dalil yang menyatakan keharaman kaum wanita memakai perhiasan di telinga yang kebanyakannya diletakkan padanya dengan menindik telinganya terlebih dahulu dan ini merupakan perhiasan yang indah bagi kaum wanita.Allah ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-A’raaf: 32)

2.Telah datang  riwayat yang menyatakan bahwa kaum wanita sahabat memakai perhiasan  di telinga mereka.

Ibnu Abbas berkata:

“ sesungguhnya Nabi  melaksanakan shalat Ied dua rakaat dan tidak melakukan sholat lagi, baik sebelum atau sesudahnya. Kemudian beliau disertai Bilal  mendatangi jama’ah wanita, lalu memerintahkan mereka untuk bershadaqah. Kemudian para wanita tersebut melemparkan anting-anting mereka”. (HR Bukhari No. 5544)

Dan cukup sebagai bukti dibolehkannya hal tersebut adalah bahwa tindakan tersebut diketahui oleh Allah dan rasul-Nya dan adanya pengakuan terhadap hal tersebut. Sebab jika hal tersebut terlarang, tentulah ada ayat atau hadis yang akan mengharamkannya”

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 115)

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin:

الصحيح : أن ثقب الأذن لا بأس به ؛ لأن هذا من المقاصد التي يتوصل بها إلى التحلي المباح ، وقد ثبت أن نساء الصحابة كان لهن أخراص يلبسنها في آذانهن ، وهذا التعذيب تعذيب بسيط ، وإذا ثقب في حال الصغر صار برؤه سريعاً .

Pendapat yang benar adalah, melubangi telinga tidak masalah, karena tujuan di balik itu untuk perhiasan yang dibolehkan. Sebagaimana tercatat (dalam sejarah) bahwa wanita-wanita sahabat memiliki perhiasan emas yang dipasang di telinga (anting-anting). Ini termasuk menyakiti namun sifatnya ringan dan bilamana dilakukan saat masih kecil akan cepat sembuh.     (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin:11 soal no:69

Berkata syaikh Shalih al Fauzan

لا بأس بثقب أذن الجارية لوضع الحلي في أذنها ، ومازال هذا العمل يفعله الكثير من الناس ، حتى كان في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، فإن النساء كن يلبسن الحلي في آذانهن وغيرها من غير نكير‏ .‏

وأما كونه يؤلم الجارية : فالمقصود بهذا مصلحتها ؛ لأنها بحاجة إلى الحلي ، وبحاجة إلى التزين ؛ فثقب الأذن لهذا الغرض مباح ومرخص فيه لأجل الحاجة ،

Tidaklah mengapa  menindik telinga dengan tujuan untuk meletakkan hiasan di telinganya.Perbuatan ini senantiasa dilakukan oleh kebanyakan ummat  manusia, bahkan hal itu telah ada di zaman Nabi.Kaum wanita di masa Rasulullah mereka memakai  perhiasan di telinga-telinga mereka dan di tempat yang lainnya dengan tanpa adanya pengingkaran.

Adapun  keberadaanya menyakitkan gadis cilik maksudnya dengan ini adalah maslahat (yang akan digapai dengannya) karena ia membutuhkan hiasan dan berhias. Menindik telinga  dengan tujuan ini diperbolehkan dan diberi keringanan dengannya karena  adanya kebutuhan.

(Fatawa syaikh Fauzan:3/324)

wallahu a’lam wa ahkam

Tim Redaksi Radio Majas 91.9 FM

Abu Hashifah al Anwar

Categories: Fiqih, Fiqih Nisa', Info, Nisa'

Leave a Reply


  • Radio Streaming