Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

05

Alhamdulillah, shalawat dan salam  kepada Rasulullah,keluarga,sahabat dan pengikut setia mereka dengan baik hingga hari akhir, amma ba’du:

Ketahuilah wahai saudaraku seiman….

Bahwasanya pembeda antara ahlu sunnah dan jama’ah dengan ahli bid’ah , pembeda antara ahlu sunnah dengan ahli hawa adalah kesesuaian mereka dengan sahabat Rasulullah.

Termasuk landasan  pokok  manhaj (metode beragama) ahlu sunnah dan jama’ah adalah berpegang kepada apa yang berada di atasnya para sahabat, baik dalam pemahaman maupun pengambilan dalil.

Berikut ini di antara sekian banyak dalil ahli sunnah wal jama’ah dalam melandasi manhaj mereka yang mulia ini..

A.Dalil dari al Qur’an:

1.Allah ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah:100].

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kepada kita tentang keridhaan-Nya terhadap orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan menyediakan bagi mereka pahala yang besar

2. Allah ta’ala berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. [An Nisa’:115].

Allah Subhanahu wata’ala telah mengingatkan kita agar tidak menyelisihi jalan mereka dan Allah Ta’ala juga mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan mereka dengan ancaman Api Jahannam.

3.Allah ta’ala berfirman:

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka jika mereka beriman kepada semisal apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah:137]

Yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini adalah sahabat kemudian orang yang mengikuti mereka.Ini adalah merupakan dalil yang jelas bahwa para sahabat mereka berada di atas petunjuk dan kebenaran dan orang yang mengikuti mereka berada di atas jalan yang lurus.
B. Dalil dari sunnah:

1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)

Nabi mengabarkan  bahwasanya sebaik-baik kurun adalah kurun Beliau secara muthlak.Hal ini menuntut di dahulukannya mereka dalam segala bidang kebaikan.

2.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. [HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad, dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah].

Rasulullah menggandengkan antara sunah  Beliau  dengan sunnah sahabat dan mewajibkan mengikuti keduanya.Kewajiban mengikuti di sini  meliputi semua yang mereka fatwakan dan apa yang mereka sunnahkan bagi ummat ini.

3.Hadits Abu Burdah dari bapaknya,berkata:

 صينا المغرب مع رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثم قلنا : لو جلسنا حتى نصلى معه العشاء ! قال : فجلسنا فخرج علينا فقال : ” مازلتم هاهنا ؟ ” قلنا: يارسول الله صلينا معك المغرب ، ثم قلنا نجلس حتى نصلى معك العشاء ، قال: ” أحسنتم أو أصبتم” قال : فرفع رأسه إلى السماء ، وكان كثيرا ما يرفع رأسه إلى السماء ، فقال : ” النجومُ أمنةٌ للسماء ، فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد ، وأنا أمنة لأصحابى ، فإذا ذهبتُ أتى أصحابى ما يوعدون ، وأصحابى أمنة لأمتى ، فإذا ذهب أصحابى أتى أمتى ما يوعدون

,” Kami sholat Maghrib bersama nabi lalu kami berkata,”Alangkah baiknya kalau kita menunggu di masjid sampai shalat Isya’ bersama beliau. Maka kami menunggu beliau sampai beliau keluar kepada kami, maka beliau bertanya,” Kalian masih di sini?” Kami menjawab,” Benar, Ya Rasulullah kami ingin mengerjakan Isya’ bersamamu.” Beliau bersabda,” Kalian telah berbuat baik dan benar.” Lalu beliau mengangkat wajah beliau menghadap langit dan memang beliau sering melakukan hal itu. Beliau bersabda,” Bintang-bintang itu penjaga amanat bagi isi langit, jika ia pergi maka isi langit akan ditimpa apa yang dijanjikan atas mereka. Aku adalah penjaga amanat bagi para shahabatku. Jika aku pergi, shahabatku akan ditimpa apa yang dijanjikan kepada mereka. Shahabatku adalah penjaga amanat bagi umatku, jika shahabatku tiada maka umatku akan ditimpa apa yang dijanjikan kepada mereka.” [Muslim 207/2531, Ahmad 4/399].

Rasulullah memberikan perumpamaan bahwasanya para sahabat bagi ummatnya adalah seperti bintang bagi langit.Perumpamaan ini memberikan faedah wajibnya ummat ini mengambil petunjuk mereka sebagaimana mereka mengambil petunjuk nabi mereka dan juga sebagaimana penduduk bumi ini mengambil petunjuk dari bintang yang ada di langit.Dan juga Nabi telah menajdikan keberadaan sahabat sebagai penjaga dan amanat bagi ummat ini dari kejelekan dan sebab-sebabnya.

C. Dalil Dari  Perkataan Sahabat:

1. Abdullah bin Masud Radhiyallahu ‘anhu  membantah orang-orang yang menanti shalat dengan membuat halaqah-halaqah (kumpulan orang-orang yang duduk melingkar) untuk berdzikir bersama-sama dengan menggunakan kerikil dan dipimpin satu orang dari mereka.

Beliau mengatakan:
وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ

Celaka kamu, wahai umat Muhammad. Alangkah cepatnya kebinasaan kamu! Mereka ini, para sahabat Rasulullah masih banyak, ini pakaian-pakaian Beliau belum usang, dan bejana-bejana Beliau belum pecah. Demi Allah Yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya kamu berada di atas suatu agama yang lebih benar daripada agama Muhammad, atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan. [HR Darimi, dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Al Bid’ah Wa Atsaruha As Sayi’ Fil Ummah, hlm. 44].

Syaikh Salim Al Hilali berkata: Abdullah bin Mas’ud telah berhujjah terhadap calon-calon Khawarij dengan adanya para sahabat Rasulullah diantara mereka. Dan sesungguhnya para sahabat tidak melakukan perbuatan mereka. Maka jika perbuatan mereka calon-calon Khawarij itu baik -sebagaimana anggapan mereka- pasti para sahabat Nabi  telah mendahului melakukannya. Maka, ketika para sahabat tidak melakukannya, berarti itu adalah kesesatan. Seandainya manhaj (jalan) sahabat bukanlah hujjah atas orang-orang setelah para sahabat, tentulah mereka (orang-orang yang berhalaqoh itu) mengatakan kepada Abdulloh bin Mas’ud: “Kamu laki-laki, kamipun laki-laki!” [Limadza, hal: 100]

2. Abdullah bin Mas’ud juga pernah berkata:

اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم

“Ikutilah (Rasulullah) dan jangan membuat bid’ah niscaya hal itu telah mencukupimu.”

(Atsar riwayat Ahmad dalam az Zuhud :162, Darimiy:211 ).

3. Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, berkata kepada orang-orang Khawarij:

أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَ مِنْ عِنْدِ ابْنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ صِهْرِهِ وَعَلَيِهِمْ نَزَلَ الْقُرْآنُ, فَهُمْ أَعْلَمُ بِتَأْوِيْلِهِ مِنْكُمْ, وَ لَيْسَ فِيْكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ

Aku datang kepada kamu dari sahabat-sahabat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan dari anak paman Nabi dan menantu Beliau (yakni Ali bin Abi Thalib). Al Qur’an turun kepada mereka, maka mereka lebih mengetahui tafsirnya daripada engkau. Sedangkan diantara kalian tidak ada seorangpun (yang termasuk) dari sahabat Nabi. [Riwayat Abdurrazaq di dalam Al Mushonnaf, no. 18678, dan lain-lain. Lihat Limadza, hlm. 101-102; Munazharat Aimmatis Salaf, hlm. 95-100. Karya Syaikh Salim Al Hilali]

D. Perkataan imam –imam Madzhab  yang empat :

1. Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:

آخُذُ بِكِتَابِ اللهِ, فَمَا لَمْ أَجِدْ فَسُّنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَإِنْ لَمْ أَجِدْ فِي كِتَابِ اللهِ وَلاَ سُّنَّةِ رَسُولِهِ آخُذُ بِقَوْلِ أَصْحَابِهِ, آخُذُ بِقَوْلِ مَنْ شِئْتُ مِنْهُمْ وَأَدَعُ قَوْلَ مَنْ شِئْتُ, وَلاَ أَخْرُجُ مِنْ قَوْلِهِمْ إِلَى قَوْلِ غَيْرِهِمْ

Aku berpegang kepada Kitab Allah. Kemudian apa yang tidak aku dapati (di dalam Kitab Allah, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak dapati di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat beliau.Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki diantara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka. [Riwayat Ibnu Ma’in dalam Tarikh-nya, no. 4219. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36, karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim].

2. Imam Malik bin Anas rahimahullah.
Imam Ibnul Qoyyim menyatakan, bahwa Imam Malik t berdalil dengan ayat 100, surat At Taubah, tentang kewajiban mengikuti sahabat.  ( I’lamul Muwaqqi’in (2/388), karya Ibnul Qoyyim )

3. Imam Syafi’i rahimahullah, berkata:

مَا كَانَ الْكِتَابُ أَوِ السُّنَّةُ مَوْجُوْدَيْنِ , فَالْعُذْرُ عَلَى مَنْ سَمِعَهُمَا مَقْطُوْعٌ إِلاَّ بِاتِّبَاعِهِمَا, فَإِذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ صِرْنَا إَلَى أَقَاوِيْلِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ وَحِدٍ مِنْهُمْ

Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau salah satu dari mereka. (Riwayat Baihaqi di dalam Al Madkhal Ilas Sunan Al Kubra, no. 35. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36 dan Manhaj Imam Asy Syafi’i Fi Itsbatil Aqidah (1/129), karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil ).

4. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, ia berkata:

عَلَى أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَّسُولِ اللهِ وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ , وَ تَرْكُ الْبِدَعِ, وَ كُلُّ بِدْعّةٍ ضَلاَلَةٍ…

Pokok-pokok Sunnah menurut kami adalah: berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah n berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh bid’ah. Dan seluruh bid’ah merupakan kesesatan … [Riwayat Al Lalikai; Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 57-58].

E. Perkataan ulama’  selain imam –imam madzhab yang empat:

1. Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata:

“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).

2.  Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata:

“Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).

3.  Al Ashbahani berkata:

“Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)

4. As Syathibi berkata:

“Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).

5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

“Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

f. Dalil-dalil akal:

1.Kesepakatan sahabat atas penetapan sifat-sifat Allah, menerima sunnah dan mengikuti yang shahih darinya dan tidak menolaknya dan juga kesepakatan mereka atas tidak dikafirkannya pelaku dosa besar dan lain-lain.

2.Mereka memahami hakekat jahiliyah dan ketika islam datang dan mereka memeluknya maka mereka benar-benar dapat membedakan antara islam dan jahiliyah.
3. Mereka menerima islam dan pengajarannya dalam keadaan bersih dan cemerlang, tanpa dicampuri oleh pengetahuan yang dimpor dari agama-agama lain yang disusupkan ke dalam islam dan juga tidaklah mereka mengenal ilmu kalam (filsafat).

4.Mereka menerima al Qur’an secara langsung dari Nabi dan mereka mengetahui kejadian-kejadian pada masa turunnya al Qur’an sehingga mereka benar-benar memahami al Qur’an dengan baik.

5.Mereka mendengar sunnah secara langsung dari Nabi dengan tanpa  perantara.Kebanyakan yang disampaikan oleh mereka di ambil langsung dari lesan Rasululllah.Meraka mengetahui maksudnya dengan baik dan sebab adanya sebuah hadits dari Nabi.

6. Agama di masa mereka masih murni dan tidaklah  muncul  berbagai kebid’ahan dalam agama sebagaimana pada masa-masa berikutnya.

 

Semua ini menunjukkan wajibnya kita mengikuti pemahaman dan metode beragama sahabat-sahabat Rasulullah.Dan barangsiapa yang mengikuti jalan mereka maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan janji keselamatan dari api neraka.

Rasulullah bersabda:

وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة ، كلها في النار إلا واحدة ” فقيل له : ما الواحدة ؟ قال : ” ما أنا عليه اليوم وأصحابي “

 “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: Apa yang  aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

Wallahu a’lam bi shawab…

 

( Tulisan ini banyak mengambil faedah dari kitab  Riyadhul Jannah dengan  ditambah dari berbagai referensi penting lainnya).

Tim Redaksi Radio Majas 91.9 FM

Abu Qushaiy al Anwar

Categories: Artikel, Info, Kajian Ilmiah, Manhaj

Leave a Reply


  • Radio Streaming