Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

03

Pertama: Kedermawanan dan Kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم

 Sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما menuturkan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi bila di bulan Ramadhan tatkala ia bertemu Jibril, dan Malaikat Jibril menemui Nabi صلى الله عليه وسلم di setiap malam di bulan Ramadhan dan mengajarkan al-Qur’an, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah manusia yang lebih dermawan dari angin yang berhembus.”

Kedua: Ketawadhu’an Nabi صلى الله عليه وسلم

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahabat Anas رضي الله عنه ia berkata, “Suatu waktu, seorang budak wanita dari kota Madinah membawa tangan Nabi صلى الله عليه وسلم untuk suatu urusan yang dia kehendaki.” Maka ini menunjukkan betapa tingginya ketawadhu’an Nabi صلى الله عليه وسلم meskipun kepada seorang budak wanita.

Nabi صلى الله عليه وسلم juga bersikap lembut kepada anak-anak kecil. Sahabat Anas رضي الله عنه menceritakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, suatu ketika ada seorang anak kecil yang bernama Abu Umair, dia memiliki seekor burung kecil yang ia selalu bermain dengannya. Namun, burung itu lalu mati hingga ia merasa sedih. Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم menghiburnya dengan mengatakan, “Wahai Abu Umair, apa yang telah dilakukan Nughair (nama burung)?”

Dan yang juga yang sangat menunjukkan betapa tingginya tawadhu’ dan kelemahlembutan Nabi صلى الله عليه وسلم adalah seperti yang diceritakan oleh Sahabat Anas رضي الله عنه. Anas رضي الله عنه menceritakan, “Aku menjadi pelayan Rasulullah صلى الله عليه وسلم selama sepuluh tahun, namun beliau tidak pernah membentak dengan mengatakan ‘ah’, atau ‘mengapa kamu melakukan ini’, atau ‘mengapa kamu tidak melakukan ini saja’.”

Karenanya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah عزّوجلّ, kecuali Allah عزّوجلّ akan mengangkat (derajatnya).” (HR Muslim)

Ketiga: Kasih Sayang Nabi صلى الله عليه وسلم Terhadap Umat

 

Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah seorang yang sangat mengasihi dan menyayangi umatnya. Allah صلى الله عليه وسلم berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS Aali ‘Imraan [3]: 159)

Tidak ada seorang pun dari manusia yang memiliki sifat sepadan dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam rahmat dan kelembutan beliau, bahkan tidak ada seorang pun yang sifatnya mendekati beliau.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia menceritakan bah-wa ada seorang badui kencing di salah satu pojok masjid, maka manusia menghardiknya. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Biarkan dia, dan siramkan pada bekas kencingnya satu timba air, sesungguhnya kalian diperintah untuk memberikan kemudahan bukan untuk menyusahkan.” (HR Bukhari)

Dan juga dari Sahabat Abu Mas’ud رضي الله عنه, ia menceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم seraya mengatakan, “Aku ketinggalan shalat Subuh gara-gara si fulan yang memanjangkan shalatnya.” Maka aku tidak melihat nabi begitu marah dalam menasihatinya kecuali hari tersebut, beliau mengatakan, “Wahai sekalian manusia, kalian bukanlah orang-orang yang menjadikan manusia lari. Karena iru, siapa pun yang shalat bersama manusia maka hendaklah ia meringankan, karena bersama mereka ada seorang yang tua, ada si sakit, dan ada yang sedang terdesak oleh kebutuhan.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda, dalam riwayat Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, “Bila salah satu dari kalian shalat maka ringankan, karena di belakangnya ada orang yang lemah, ada yang sakit, ada yang tua. Namun, bila ia shalat sendirian maka silakan ia memanjangkan sekehendaknya.”

Beginilah praktik kelembutan beliau. Diriwayatkan dari Abu Qatadah رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda, “Suatu waktu, aku sedang shalat dan aku ingin memanjangkan bacaanku, lalu aku mendengar tangisan seorang anak, maka aku ringankan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya.”

Dari Abu Qatadah رضي الله عنه juga, “Suatu waktu Nabi صلى الله عليه وسلم keluar menggendong Umamah bintu Abil Ash di pundaknya, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم shalat, bila beliau rukuk maka beliau letakkan Umamah, dan bila beliau bangkit maka beliau mengangkatnya.”

Nabi صلى الله عليه وسلم juga bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku maka aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak di setiap akan shalat.” Namun, beliau tidak mewajibkannya karena khawatir akan memberatkan umat beliau.

Hadits-hadits ini seluruhnya diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang sangat jelas menunjukkan kepada kita betapa tinggi dan mulianya akhlak Nabi صلى الله عليه وسلم, dan betapa tawadhu’nya beliau kepada seluruh manusia.

Demikian juga, tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم shalat di beberapa malam di bulan Ramadhan lalu Nabi صلى الله عليه وسلم meninggalkannya karena khawatir hal itu akan diwajibkan atas umatnya.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah رضي الله عنها bahwa (di malam bulan Ramadhan) Nabi صلى الله عليه وسلم shalat di masjid. Lalu manusia mengikuti shalat di belakang beliau. Pada hari kedua, manusia semakin bertambah banyak, hingga pada malam ketiga atau keempat mereka pun telah berkumpul di masjid namun Nabi صلى الله عليه وسلم tidak keluar untuk shalat malam bersama mereka. Di waktu subuh, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sebenarnya aku tahu dengan apa yang kalian lakukan, namun tidak ada yang mencegahku dari keluar untuk mengimami kalian kecuali kekhawatiranku seandainya nanti shalat ini akan diwajibkan kepada kalian.”

Disebutkan juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia mengatakan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang dari berpuasa wishal (selalu berpuasa di setiap hari), lalu ada seorang muslim berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankan engkau juga berpuasa wishal?’ Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, ‘Tidaklah kalian semisal denganku, sesungguhnya aku tidur namun Rabbku telah memberiku makan dan minum.'”

Dan di antara persaksian sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan kelembutan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada manusia apa yang disebutkan dalam Shahih Muslim, dari haditsnya Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami رضي الله عنه, tatkala ia menjawab bersinnya seseorang tatkala ia sedang di tengah-tengah shalat, maka ia merasa para sahabat lain mengingkari perbuatannya. (Mu’awiyah bin Hakam رضي الله عنه berkata,) “Seusai shalat, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajariku, dan sungguh aku tidak melihat seorang pengajar yang lebih baik pengajarannya, baik sebelum kejadian itu maupun sesudahnya ketimbang beliau. Demi Allah, beliau tidak memarahiku, tidak memukulku, dan tidak mencelaku. beliau hanya mengajarkan bahwa shalat itu tidak dibenarkan untuk berbicara, namun hanyalah tasbih, takbir, dan membaca al-Qur’an.”

 

Keempat: Kelembutan dan Sifat Pemaaf Nabi صلى الله عليه وسلم

 

Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Jabir رضي الله عنه ia berkata:

Kami berperang bersama Nabi صلى الله عليه وسلم pada suatu peperangan. Tatkala kami telah sampai di sebuah lembah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم turun di bawah sebuah pohon dan meletakkan pedangnya di salah saru ranting pohon tersebut, sedang kaum muslimin yang lain saling berpencar mencari tempat peristirahatan di bawah pohon-pohon, Nabi صلى الله عليه وسلم menceritakan, “Tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiriku padahal aku sedang tertidur di bawah pohon, lalu laki-laki itu mengambil pedang hingga aku terbangun, namun dia telah berada tepat di atas kepalaku. Aku tidak sadar bila ternyata pedangku telah terhunus di tangannya.'” Lalu laki-laki itu mengatakan, “Siapa yang dapat menolongmu dariku?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Allah عزّوجلّ.” Dia pun mengulangi pertanyaannya, “Siapa yang dapat menolongmu dariku?”   Nabi  صلى الله عليه وسلم  menjawab,   “Allah  عزّوجلّ.” Tiba-tiba tubuh laki-laki itu bergetar dan pedangnya jatuh. Meski demikian, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak membalas atau menghukumnya.

Disebutkan juga dalam ash-Shahihain dari Aisyah رضي الله عنها: ia berkata, suatu hari sekelompok Yahudi datang dan bertemu Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu mereka mengucapkan, السَّامُ عَلَيْكُمْ (semoga kematian atasmu)” sebagai ganti dari ucapan salam. Kata Aisyah رضي الله عنها, “Maka aku pun paham maksud ucapan mereka lalu kukatakan kepada mereka, ‘Dan semoga kematian atas kalian dan semoga laknat juga atas kalian.'” Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم menenangkan Aisyah رضي الله عنها, “Pelan-pelan, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah عزّوجلّ cinta kelembutan pada seluruh perkara.” Aisyah رضي الله عنها menimpali, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa yang mereka ucapkan?” Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Balas saja ucapan mereka dengan ucapan, وَعَلَيْكُمْ (dan semoga kalian juga).” Ini adalah sebuah akhlak yang sangat tinggi di mana Nabi صلى الله عليه وسلم dapat berlemah lembut meski kepada orang-orang yang memusuhi beliau.

Sekarang marilah kita melihat kelemahlembutan Nabi صلى الله عليه وسلم kepada seorang Arab badui. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه ia berkata, “Suatu hari, aku berjalan bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Tatkala itu, Nabi صلى الله عليه وسلم mengenakan selendang dari Najran yang tebal pada sisi-sisinya, lalu bertemulah dengan seorang Arab badui lalu ia menarik selendang Nabi صلى الله عليه وسلم dengan tarikan yang kuat.” Kata Anas رضي الله عنه, “Sungguh, aku dapat melihat bekas tarikan kuat tersebut pada sekitar leher beliau, lalu si badui tersebut membentak, ‘Wahai Muhammad, berikan kepadaku dari harta Allah عزّوجلّ yang diberikan kepadamu.!!’ Lalu, sambil menoleh, Nabi صلى الله عليه وسلم tersenyum kem

Kelima: Contoh Akhlak Seorang Da’i

 

Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها bahwa ia bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Wahai Rasulullah, apakah ada suatu hari yang engkau lalui yang lebih berat ketimbang pada hari (Perang) Uhud?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Sungguh aku telah merasakannya dari kaummu. Dan di antara hari terberat yang aku dapatkan dari mereka adalah pada hari Aqabah, tatkala aku berdakwah di bani Abdi Yalil bin Abdi Kilal, namun tidak ada seorang pun yang menyambut seruanku. Maka aku pun kembali dengan kesedihan di wajahku, dan aku tidak tersadarkan diri kecuali setelah aku sampai di Qarnu Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku, ternyata ada awan yang telah menaungiku, lalu aku melihat ke arahnya tiba-tiba aku melihat Jibril seraya memanggilku lalu mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah عزّوجلّ telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan balasan mereka atas dirimu. Dan Allah عزّوجلّ telah mengutus kepadamu Malaikat Gunung untuk engkau perintah sesukamu.’ Lalu Malaikat Gunung memanggilku, dan mengucapkan salam kepadaku lalu ia mengatakan,’ Wahai Muhammad…sesungguhnya Allah عزّوجلّ telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan aku adalah Malaikat Gunung. Aku telah diutus oleh Rabbmu agar engkau memerintahku sekehendakmu. Kalau engkau mau maka akan kutimpakan dua Gunung Makkah ini kepada mereka.’ Maka aku (Rasulullah صلى الله عليه وسلم) mengatakan, ‘Tidak, namun aku mengharapkan semoga Allah عزّوجلّ kelak mengeluarkan dari sulbi mereka orang-orang yang mau beribadah hanya kepada Allah عزّوجلّ saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu-pun.'”

Maka adakah para da’i yang mau mengambil pelajaran berharga ini? Sungguh benar bahwa pada diri Nabi صلى الله عليه وسلم terdapat teladan yang baik.

Keenam: Keberanian dan Kekuatan Nabi صلى الله عليه وسلم dalam Ibadah

 

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها ia berkata, “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berdiri untuk shalat hingga kedua kakinya bengkak.” Sampai-sampai Aisyah رضي الله عنها merasa iba seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan sampai seperti ini padahal dosa-dosamu telah diampuni baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Wahai Aisyah, tidakkah aku senang bila aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.”

Ketika Perang Hunain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tetap tegar di tempatnya ketika kaum muslimin banyak yang lari kebingungan mencari perlindungan, Sahabat al-Barra’ bin Azib صلى الله عليه وسلم menceritakan:

Ada seorang mengatakan, “Wahai Abu Ammarah apakah engkau juga ikut lari pada waktu Perang Hunain?” beliau menjawab, “Sungguh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidaklah lari tatkala itu. Orang-orang Hawazin, mereka adalah para ahli dalam memanah. Tatkala kami bertemu pasukan mereka dan kami dapat menguasai mereka di awal-nya, lantas banyak dari manusia yang terburu-buru mengambil harta ghanimah, sehingga tatkala mereka (musuh) berbalik dan melemparkan panah-panah mereka, banyak manusia yang kebingungan, sungguh aku melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم terus maju menyerang musuh sedangkan Abu Sufyan bin al-Harits رضي الله عنه menahan tali kekang keledai yang ditunggangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar tidak terlalu kencang larinya karena mengkhawatirkan beliau. Dengan lantang Rasulullah صلى الله عليه وسلم melantunkan ucapannya:

أَنَ النَّبِيُّ لاَ كَذِبَ أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

‘Aku adalah nabi yang tidak berdusta, aku adalah anak dari Abdul Muththalib.'”

Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan dalam Tafsir-nya setelah membawakan kisah di atas, “Ini adalah keberanian yang sempurna, tatkala beliau berada pada keadaan yang sangat berbahaya, tatkala pasukan sahabat lari kebingungan, namun beliau tetap berada di atas keledainya maju menyerang meski keledai adalah kendaraan yang tidak cepat dalam berlari dan tidak pandai berlari, namun beliau tetap mengobarkan semangat sahabat dan meyakinkan para sahabat akan kebenaran kenabian beliau, dengan tawakal kepada Allah عزّوجلّ yakin bahwa Allah عزّوجلّ pasti akan memberikan pertolongannya, dan menampakkan agama ini di atas semua agama.”

Ini panutan kita, inilah suri teladan kita. Maka setelah ini, masih adakah orang-orang yang —baik dengan sengaja maupun tidak sengaja—merendahkan dan menghinakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kalau bukan karena kejahilan, maka berarti karena kekufuran dan kemunafikan mereka. Kita berdo’a kepada Allah عزّوجلّ semoga kita dijaga dan dijauhkan dari tipu daya musuh-musuh-Nya, menetapkan hati kita di atas kebenaran, dan mengumpulkan kita dengan para nabi dan orang-orang yang Allah عزّوجلّ ridhai. Aamiin. []

udian memerintahkan untuk memberikan harta kepadanya.”

 

Categories: Artikel, Info

Leave a Reply


  • Radio Streaming