Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

101 

Kita bersyukur kepada Alloh, karena kaum muslimm masih banyak yang berkeinginan menunaikan ibadah haji, bahkan kita jumpai sebagian mereka tidak cukup sekali menjalankannya, tetapi berulang-ulang. Namun kalau kita tinjau secara syar’i manasik mereka ini masih banyak penyimpangan-penyimpangan, menyelisihi sunnah Rosululloh, menuju kepada kebid’ahan, bahkan menuju kepada kesyirikan. Oleh karena itu, kekeliruan dan penyimpangan ini perlu kita ketahui untuk kita jauhi, agar ibadah kita bersih dari perkara bid’ah dan kesyirikan, dan menjadi haji yang mabrur.

 

Penyimpangan mereka antara lain:

  1. A.    Kekeliruan Sebelum berangkat
    1. Berziaroh kubur. Karena menentukan ziaroh kubur sebelum haji tak ada tuntunan.
    2. Mengadakan walimah pemberangkatan haji, disertai acara musik dan nyanyian. Padahal menyanyi hukumnya haram berdasarkan surat Luqman: 6.
    3. Berangkat haji hanya modal tawakal kepada Alloh, padahal haji hendaknya berbekal, lihat surat al-Bagoroh: 197.
    4. Wanita haji tanpa mahrom, atau mahrom numpang, atau nikah sementara, hal ini melanggar syariat.
    5. Pemberangkatan dari Masjid.
    6. Mengadakan upacara pelepasan dengan didudukkan di atas kursi berdua dengan istrinya bila menjalankan haji bersama istri.
    7. Sebelum berangkat disambut dengan sholawat Nabi dan dzikir bersama serta tahlilan.
    8. Sebelum berangkat diadzani.

Selanjutnya Syaikh al-Albani menambahkan.

  1. Sholat dua roka’at, pertama membaca surat al-Kafirun yang kedua membaca al­Ikhlas, setelah salam membaca do’a tertentu seperti yang disebutkan di dalam kitab Ihya’ tllumuddin.
  2. Sholat empat roka’at, karena hadits yang menjelaskan hal ini dho’if.
  3. Membaca wind haji, surat Ali-Imron, ayat Kursy dan seterusnya.
  4. Sholat dua roka’at setiap memasuki daerah. (Lihat Hajjatun Nabi oleh al-Albani: 106)

 

  1. B.     Kesalahan berihrom dan bertalbiyah

Syaikh al-Albani menerangkan kekeliruan pada waktu berihrom dan bertalbiyah sebagai berikut:

  1. Berpakaian ihrom sebelum sampai migot
  2. Wanita mengeraskan talbiyah.
  3. Sholat di masjid Aisyah di Tan’im
  4. Bermaksud pergi ke masjid selain masjidil Harom.
  5. Bermaksud pergi ke gunung, gua dan tempat di sekitar Makkah. (Lihat Hajjatun Nabi oleh al-Albani: 111)

 

Lajnah Daimah ulama Saudi menambahkan:

  1. Bertalbiyah bersama-sama dengan dikomando oleh ketua jamaah. (Lihat Fatwa Lajnah Daimah 1 1 /358)
  2. Melewati migot tanpa mengenakan pakaian ihrom. Dendanya hendaknya kembali ke migot, lalu mengenakan pakaian ihrom, jika tidak mungkin harus membayar fidyah berupa menyembelih binatang qurban. (Lihat Dolil Haji wal Umroh: 31-32)
  3. Wanita berihrom memakai pakaian sempit, tipis, atau bersolek diri.

 

  1. C.    Kekeliruan ketika di penginapan

Menurut kebiasaannya jamaah haji Indonesia kelas biasa, setelah sampai di kota Makkah atau Madinah mereka menginap di penginapan dalam satu kamar kecil berisikan sepuluh sampai limabelas orang. Adapun kekeliruan yang sering terjadi di penginapan antara lain:

  1. Jamaah haji pria dan wanita jadi satu di dalam satu asrama, ini adalah kesalahan besar, karena akan membawa fitnah yang sangat besar. Padahal bila diatur dengan baik sebenamya hal itu bisa dihindari yaitu dengan cara laki-laki dikumpulkan dengan laki-­laki, demikian pula wanita dengan wanita.
  2. Saling pandang memandang antara laki-laki dan wanita yang bukan mahromnya, hal ini melanggar surat an-Nur: 30-31.
  3. Saling berjabat tangan dengan yang bukan mahromnya, padahal diterangkan di dalam hadits bahwa siksaan berupa kepala ditusuk dengan besi yang panas sampai tembus dubur itu lebih ringan daripada menyentuh wanita yang bukan mahromnya.
  4. Mengadakan obrolan dan canda antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom.

Hal ini melanggar firman-Nya di dalam surat al-Bagoroh: 197

  1. Monopoli dan tidak mengindahkan kebutuhan teman.
  2. Pria meninggalkan sholat berjamaah, padahal dekat dengan masjidil Harom, dengan alasan safar.
  3. Menyepi dengan wanita yang bukan mahromnya.
  4. Bepergian di tempat yang jauh tanpa mahrom.

 

  1. D.    Kekeliruan di masjidil Harom
    1. Mengelilingi masjidil Harom guna menghitung pintu dan tiangnya. Hal ini adalah pekerjaan sia-sia, tak ada manfaatnya.
    2. Berjamaah di masjidil Harom dengan berjejal-jejal dengan wanita.

 

  1. E.     Kesalahan pada waktu thowaf

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan pada waktu thowaf antara lain:

  1. Mandi untuk thowaf
  2. Memakai kaus kaki agar tidak terkena kotoran burung.
  3. Membungkus dua tangan agar tidak tersentuh oleh wanita.
  4. Sholat Tahiyatul masjid tatkala akan thowaf.
  5. Mengeraskan niat ketika thowaf.
  6. Mengangkat kedua tangan setelah menyentuh Hajar Aswad
  7. Bersuara ketika mencium Hajar Aswad.
  8. Berjejal-jejal mencium Hajar Aswad sehingga menyakiti saudaranya.
  9. Setelah sholat jamaah bersegera menemui imam masjid untuk berjabat tangan.

 

  1. Ketika menyentuh Hajar Aswad berdo’a:

اَللَّهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ

  1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika thowaf
  2. Ketika menghadap pintu Ka’bah membaca do’a

اَللَّهُمَّ أَنَّ اْلبَيْتَ بَيْتُكَ وَالْحَرَمَ حَرَمُكَ وَاْلأَمْنَ أَمَنُكَ…

  1. Berdo’a di pancuran air Ka’bah dengan do’a:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الشَّكِّ وَالشِّرْكِ وَالشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ وَسُوْءِ اْلأَخْلاَقِ وَاسْقِنِى بِكَأْسِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ شُرْبَةً هَيِّئَةً مَرِيْئَةً لاَ اَظْمَأْ بَعْدُ أَبَدًا، يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

  1. Berdo’a pada waktu putaran keempat:

رَبِّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ اْلأَعَزُّ اْلأَكْرَمُ

  1. Mencium rukun Yamani. (Lihat Hajjatun Nabi, al-Albani: 113-118)

Berikutnya, majelis ulama Saudi menambahkan:

  1. Memulai thowaf sebelum Hajar Aswad.
  2. Thowaf di dalam Hijir Ismail.
  3. Berjalan dengan cepat pada semua putaran.
  4. Mengusap Hajar Aswad dengan maksud agar mendapatkan barokah.
  5. Menjamah seluruh pojok Ka’bah.
  6. Mengusap dinding Ka’bah.
  7. Mengomando do’a thowaf.
  8. Berdesak-desakan untuk menjalankan sholat dua roka’at di belakang maqom Nabi Ibrohim. (Lihat kitab Dalil Haji wal Umroh 32-34)
  9. Mengusapkan anak dan bajunya ke dinding Ka’bah untuk mencari barokah.
  10. Menggantungkan tangan ke dinding Ka’bah
  11. Mengusap maqom Nabi Ibrohim.

 

  1. F.     Kesalahan ketika sa’i

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan ketika sa’i antara lain:

  1. Berwudhu setiap akan sa’i dengan anggapan bahwa setiap tapak kaki pahalanya tujuh puluh ribu derajat.
  2. Naik ke bukit Shofa sehingga menempel pada dinding.
  3. Tatkala turun dan Shofa, berdo’a dengan do’a اَللَّهُمَّ اسْتَعْمَلَنِى بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ
  4. Sa’i dengan empatbelas putaran diakhiri di bukit Shofa.
  5. Berulang-ulang menjalankan sa’i pada waktu haji dan umroh.
  6. Sholat dua roka’at setelah sa’i.
  7. Tetap terus sa’i ketika dikumandangkan adzan. (Lihat Hajjatun Nabi al-Albani: 106)

Berikutnya, ulama Saudi menambahkan:

  1. Berjalan cepat pada waktu sa’i pada semua putaran. Padahal yang benar hanya ketika melintasi tanda hijau.
  2. Ketika sampai pada bukit Shofa dan Warwah, menghadap ke Ka’bah lalu takbir, seolah-olah akan menjalankan sholat Karena Rosululloh Saw mengangkat tangannya ketika berdo’a. (Lihat Ualil Haji wal Umroh: 34)

 

  1. G.    Kesalahan di Arofah

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan ketika di Arofah antara lain:

  1. Wuquf di Jabal Arofah pada tanggal 8 Dzulhijjah sebagai cadangan bila keliru hari Arofahnya.
  2. Malam Arofah membaca dzikir سُبْحَانَ اللهِ فِي السَّمَاءِ عَرْشُهُ sebanyak seribu kali.
  3. Berangkat ke Arofah dari Makkah pada tanggal 8 Dzulhijjah.
  4. Berangkat dari Arofah ke Mina malam hari.
  5. Mandi hari Arofah.
  6. Ketika mendekati Arofah, dan melihat Jabal Rohmah membaca dzikir:  سُبْحَانَ اللهِ

وَالْحَمْدُ للهِ…..

  1. Di Arofah membaca kalimat tahlil dan surat al-Ikhlas seratus kali kemudian bersholawat Nabi.
  2. Diam di Arofah tidak berdo’a.
  3. Naik ke Jabal Rohmah di Arofah.
  4. Keyakinan bahwa Alloh turun pada sore hari Arofah di atas Jabal Auroq dan berjabat tangan dengan orang yang berkendaraan dan memeluk orang yang berjalan.
  5. Imam berkhotbah di Arofah dua khotbah, seperti khotbah Jum’at.
  6. Sholat Dzuhur dan Ashar sebelum sholat Jum’at.
  7. Sholat sunnah antara sholat Dzuhur dan Ashar di Arofah.
  8. Menentukan do’a secara khusus di Arofah.
  9. Sebagian pergi dari Arofah sebelum tenggelam matahari.
  10. Keyakinan bila wuquf di Arofah jatuh hari Jum’at seperti menjalankan haji tujuh puluh dua kali.
  11. Mengadakan dzikir berjamaah dengan suara keras disertai dengan khutbah dan syair­syair. (Lihat kitab Ualil Haji wal Umroh: 122-127)

Berikutnya, ulama Saudi menambahkan:

  1. Wuquf di luar Arofah.
  2. Berdesak-desakan untuk dapat naik di atas bukit Arofah.
  3. Berdo’a menghadap ke bukit Arofah, padahal sunnahnya menghadap ke kiblat
  4. Mengadakan gundukan pasir dan batu krikil pada waktu di Arofah di tempat-tempat tertentu. (Lihat Dalil Haji wal Umroh: 34)

 

  1. H.    Kesalahan di Muzdalifah

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan ketika di Muzdalifah antara lain:

  1. Mandi karena menginap di Muzdalifah.
  2. Turun dari kendaraan, berjalan kaki untuk hormat kepada tanah harom.
  3. Tidak segera sholat Maghrib ketika sampai di Muzdalifah, karena sibuk mencari batu kecil
  4. Sholat sunnah antara sholat Maghrib dan Isya’.
  5. Tinggal di Arofah tanpa bermalam (Lihat Hajjatun Nabi oleh al-Albani: 128-130).

 

  1. I.       Kesalahan ketika melempar jumroh

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan ketika melempar jumroh antara lain:

  1. Mandi untuk melempar jumroh.
  2. Mencuci batu jumroh.
  3. Membaca tasbih atau dzikir sebagai ganti bertakbir.
  4. Melempar jumroh dengan sandal.
  5. Membatasi tempat pelemparan lima hasta dari jumroh. (Lihat Hajjatu Nabi oleh al­Albani: 131)

 

  1. J.      Kesalahan menyembelih dan cukur rambut

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan pada waktu menyembelih qurban dan memotong rambut antara lain:

  1. Lebih suka membayar dengan uang dari pada menyembelih, dengan alasan mubadzir.
  2. Menyembelih binatang hadyu di Makkah sebelum hari qurban.
  3. Mencukur rambut hanya sebagian.
  4. Menganggap sunnah bila menghadap kiblat ketika mencukur rambut.
  5. Selesai mencukur berdo’a:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى مَا هَدَانَا وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا ….

  1. Anjuran sholat Id di Mina pads hari qurban.
  2. Meninggalkan sa’i setelah thowaf ifadhoh bagi yang haji tamatu’. (Lihat Hajjatun Nabi al-Albani: 132-133)

 

  1. K.    Kesalahan di Madinah al-Munawaroh

Syaikh al-Albani menjelaskan bid’ah dan kekeliruan ketika di Madinah antara lain:

  1. Bermaksud Ziaroh kuburan Nabi Saw.
  2. Mandi sebelum masuk masjid Nabawi.
  3. Ketika masuk masjid Nabawi, mendahulukan ziaroh kubur.
  4. Minta syafa’at di kuburan Nabi n\ atau meminta kepadanya.
  5. Mencium dinding kuburan Nabi Saw dan mengusapnya untuk mendapatkan barokah.
  6. Berebut mencari tempat duduk di sisi kuburan Nabi Saw untuk berdzikir dan berdo’a.
  7. Menghadap ke arah kuburan Nabi Saw pada waktu masuk masjid Nabawi atau keluar.
  8. Mengeraskan suara ketika salam kepada Nabi Saw setelah sholat.
  9. Mewajibkan tinggal di Madinah delapan hari agar dapat mengerjakan sholat Arba’in
  10. Berziaroh ke kuburan Baqi’ setiap hari dan sholat di Masjid Fathimah.
  11. Mengkhususkan hari Kamis berziaroh di kuburan syuhada’ uhud.
  12. Keluar dari masjid Nabawi dengan mundur ketika mau pulang. (Lihat Hajiatun Nabi oleh al-Albani: 136)
  1. Menghitung tiang dan kubah masjid Nabawi.
  2. Berdo’a dan menangis di hadapan kuburan Nabi Saw
  3. Meminta dan memanggil Nabi untuk bertawassul kepadanya.
  4. Menganggap bahwa berdo’a di hadapan kuburan Nabi Saw cepat dikabulkan. (Lihat Hajjatun Nabi oleh al-Albani: 137-138)

 

  1. L.     Kesalahan pada waktu pulang ke tanah air
  1. Setelah tiba di rumah tidak boleh keluar selama sepekan, ini adalah bid’ah. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 11/358)
  2. Marah bila tidak dipanggil pak haji.
  3. Wajib memakai kopiah dan pakaian putih.
  4. Mengganti nama, dan dipasang di sepanduk di rumah.
  5. Didudukkan di kursi agar berjabat tangan dengan orang yang berkunjung.
  6. Mengadakan walimah haji, dan beranggapan kurang sempurna hajinya bila tidak mengadakan tasyakuran.
  7. Berjabat tangan dengan selain mahromnya.
  8. Ridlo dimintai barokah oleh pengunjung.
  9. Pulang disambut dengan sholawat nabi.

Demikianlah penyimpangan, kesalahan, kebid’ahan dan kemusyrikan yang dilakukan pada waktu dari perjalanan ibadah haji. Semoga Alloh memberi petunjuk kepada kita semua

 

Disusun oleh : Abu Zahrah al Anwar

 

Leave a Reply


  • Radio Streaming