Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

14 copy

Ketika tanggal 10 ( asy Syura’ )  Muharram datang menjemput ada  dua kelompok ummat manusia   yang tersesat di hari yang mulia ini.Yaitu

 Kelompok pertama

Kelompok yang menyerupai orang-orang Yahudi sehingga menjadikan hari ini sebagai musim hari raya dan kesenangan.Ditampakkan di dalamnya syi’ar- syi’ar kebahagian dan kegembiraan,semisal menyemir rambut,bercelak,membagi-bagikan nafkah kepada sanak keluarga,memasak biji-bijian yang di luar adat kebiasaannya dan lain-lain dari amalan orang-orang yang jahil (tidak memiliki ilmu), yang menghadapi kerusakan dengan kerusakan, menghadapi kebid’ahan dengan kebid’ahan

Ketahuilah wahai saudara – saudariku….

Bahwasanya perbuatan ini sama sekali tidak ada contohnya dari para pendahulu kita yang shalih.Dan semua hadits yang berkaitan dengannya adalah palsu dan tidak halal bagi kita untuk meriwayatkannya.

Berkata syaikhul Islam ketika  ditanya tentang perbuatan yang dikerjakan manusia pada hari ‘Asyura-’ seperti bercelak, mandi, memakai pacar, saling bersalaman, memasak biji-bijian dan memperlihatkan kesenangan serta yang lainnya… Apakah yang demikian itu ada dasarnya atau tidak?

Dijawab: “Segala puji milik Allah Rabb semesta alam, tidak ada di dalam hal ini satu riwayat hadits shahihpun dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak juga dari para shahabatnya, tidak dianjurkan pula oleh satupun dari para Imam yang empat akan hal tersebut, tidak pula dari selain mereka dan para pengarang kitab-kitab mu’tabar (terpandang) juga tidak meriwayatkan sesuatupun dalam hal ini dan tidak dari riwayat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari para shahabat, juga dari tabi’in, tidak ada dari hadits yang shahih, tidak juga dari hadits yang lemah. Tetapi sebagian orang-orang generasi terakhir telah meriwayatkan dalam perkara ini beberapa hadits, seperti apa yang mereka riwayatkan bahwa;

أَنَّ مَنْ اكْتَحَلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، لَمْ يَرْمَدْ مِنْ ذَلِكَ الْعَامِ

“Barangsiapa yang bercelak pada hari ‘Asyura-’ maka ia tidak akan pedih matanya pada tahun itu”,

وَمَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَمْرَضْ ذَلِكَ الْعَامَ

“Barang siapa yang mandi pada hari ‘Asyura-’ maka ia tidak akan sakit pada tahun itu”

dan yang semisal dengan itu… dan bahkan mereka telah meriwayatkan sebuah hadits palsu mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّهُ مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ السَّنَةِ

 “Bahwasanya barang siapa yang bermurah atas keluarganya pada hari ‘Asyura-’ maka Allah Akan melapangkan rizqinya sepanjang tahun”.

Dan seluruh riwayat-riwayat ini tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bohong. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa syaikhul islam, 25/ 295-299).

Berkata Ibnu Qayim: “ Hadits-hadits tentang bercelak pada hari asy syura,berhias,bermurah hati dalam nafkah,shalat dan lain-lainnya tidaklah ada yang shahih dan tidak sah dari Nabi sesuatupun di dalamnya kecuali hadits tentang puasa dan selainnya adalah batil “. ( Al Manar al Munif: 1/ 111-112)

Berkata: “ …Semua apa yang diriwayatkan tentang keutamaan bercelak,berinai dan mandi (pada hari asy syura’) adalah palsu,tidak shahih “ ( Lathaifaul Ma’arif: 1/ 57 – 60)

Kelompok kedua

Mereka menjadikan hari ini sebagai hari duka dan keluh kesah karena terbunuhnya cucu Rasulullah Husain bin Alin bin.Kelompok ini menampakkah kesedihannya dengan cara menampakkan syi’ar – syi’ar ahli jahiliyah berupa memukul –mukul pipi, merobek-robek krah baju,mendendangkan nasyid kesedihan dan kedukaan serta membaca kabar-kabar yang dustanya lebih banyak daripada jujurnya.Tujuan mereka dengan semua ini adalah membangkitkan fitnah dan perpecahan di antara ummat Rasulullah.Ini semua adalah amalan orang yang sesat di dalam kehidupan dunia ini namun mereka menyangka telah berbuat kebaikan. Kelompok yang terjerumus ke dalam bid’ah ini adalah orang-orang syi’ah Rafidhah.

Ketahuilah wahai saudara dan saudariku se iman…

Bahwasanya perbuatan ini hukumnya adalah haram.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Mengenai orang yang melakukan niyahah lantas tidak bertaubat sampai mati dan disebutkan sampai akhir hadits, menunjukkan bahwa haramnya perbuatan niyahah dan hal ini telah disepakati. Hadits ini menunjukkan diterimanya taubat jika taubat tersebut dilakukan sebelum mati.” (Syarh Muslim, 6: 235)

Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallohu’anhu berkata: “Nabi Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

ليس منا من ضرب الخدود ، وشق الجيوب ، ودعا بدعوى الجاهلية

“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi (karena meratap ketika ditimpa musibah –pen.), merobek kantung dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Yang dimaksud dengan “menyeru dengan seruan jahiliyah” adalah melakukan niyahah, menyebut-nyebut kebaikan si mayat dan mendoakan kecelakaan menimpa diri. Demikian kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menukil dari Al-Qadhi ‘Iyadh. (Syarhu Shahih Muslim, 2/110)

Abu Musa Radhiyallohu’anhupernah menderita sakit yang parah hingga ia pingsan dan kepalanya berada di pangkuan salah seorang wanita dari kalangan keluarganya. Maka menjeritlah wanita tersebut, sementara Abu Musa Radhiyallohu’anhu tidak mampu mengucapkan satu katapun kepada si wanita. Tatkala Abu Musa Radhiyallohu’anhu siuman ia berkata:“Aku berlepas diri terhadap apa yang Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam berlepas diri dari :

  الصالقة

wanita yang meninggikan suaranya (berteriak) ketika terjadi musibah

 والحالقة

, wanita yang mencukur rambutnya ketika terjadi musibah,

والشاقة

dan wanita yang merobek pakaiannya ketika terjadi musibah.” (HR. Al- Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104)

‘Aisyah Radhiyallohu’anha mengabarkan: “Tatkala datang berita kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah, Nabi Sholallohu’alaihi wasallam duduk dan tampak kesedihan pada diri beliau. Aku melihat hal itu dari celah pintu. Lalu datanglah seseorang menemui beliau dengan membawa kabar: “Wahai Rasulullah, istri dan kerabat wanita Ja’far meratap”, katanya sembari menceritakan bagaimana tangisan mereka. Nabi Sholallohu’alaihi wasallam pun memerintahkan orang itu agar melarang mereka dari berbuat demikian. Orang itu pun pergi untuk menunaikan perintah tersebut. Namun kemudian orang itu kembali lagi dengan berkata: “Demi Allah, sungguh kami tidak mampu mendiamkan mereka.” Nabi Sholallohu’alaihi wasallam berkata:

“Taburkan pasir di mulut-mulut mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 1305 dan Muslim no. 935)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam syarahnya terhadap hadits di atas membawakan ucapan Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berikut ini: “(Adanya perintah Nabi Sholallohu’alaihi wasallam yang demikian .) menunjukkan para wanita itu menangis dengan suara keras, maka ketika mereka tidak berhenti dari perbuatan demikian, beliau Sholallohu’alaihi wasallam memerintahkan agar menyumpal mulut-mulut mereka dengan pasir. Dikhususkan mulut dalam hal ini karena dari mulutlah keluar ratapan tersebut, beda halnya dengan mata misalnya.” (Fathul Bari, 3/207)

Karena haramnya perbuatan meratap ini maka Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam membai’at para wanita shahabiyah agar tidak melakukannya sebagaimana diceritakan Ummu ‘Athiyyah Radhiyallohu’anha. Ia berkata:

“Nabi Sholallohu’alaihi wasallam mengambil perjanjian dari kami (para wanita) ketika membai’at agar kami tidak melakukan niyahah. Tidak ada seorang wanita pun yang berbai’at ketika itu yang memenuhinya kecuali lima orang yaitu Ummu Sulaim, Ummul ‘Ala`, putri Abu Sabrah istri Mu’adz dan dua wanita lainnya, atau putri Abu Sabrah, istri Mu’adz dan seorang wanita yang lain.”5 (HR. Al-Bukhari no. 1306 dan Muslim no. 936)

Wallahu a’lam bish shawab

Yogyakarta, 15 Dzulhijah 1434

Diramu dari berbagai sumber oleh :

Abu Zahrah Zaenuddin al Anwar

Categories: Artikel, Fiqih

Leave a Reply


  • Radio Streaming