Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

images

Wajah ditekuk. Mulut seakan terkunci, terasa begitu berat menerbitkan secuil senyum pun. Mata lebih berat memandang hamparan bumi di depannya, daripada memandang saudaranya yang berpapasan. Tangan pun menjadi tidak sambung untuk sekadar bersalaman pun.

Tidak berlebihan jika gambaran tersebut mewakili sikap sebagian kaum muslimin, kalau tidak boleh dikatakan kebanyakan, saat berpapasan dan bertemu dengan saudaranya seiman. Cuek dan tak mau tahu, seakan yang ada hanya dirinya sendiri…kecuali orang lain itu diharapkan bisa memberi keuntungan, telah memberi keuntungan, atau selalu akan memberikan keuntungan. Begitu terasa bahwa salam kini semakin mahal.

Padahal Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai guru bagi semua manusia memberikan pesan kepada umatnya agar mengobral ucapan salam kepada sesama muslim. Ucapan salam inilah yang akan menyemaikan rasa cinta di antara orang-orang yang beriman. Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mau melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di tengah-tengah kalian!”[1]

 

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (secara sempurna) sehingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sepenuh kecintaanya akan kebaikan itu untuk dirinya sendiri.”[2]

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Ini adalah makna dari firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Al-Hujuråt:10)

Bagaimana cara kita mencintai saudara sebagaimana mencintai diri kita sendiri? Para ulama menjelaskan, “Engkau mencintai kebaikan baginya seperti halnya engkau menginginkan hal itu bagi dirimu sendiri.”

SALAM PENGHORMATAN

Di antara hak-hak orang muslim adalah mengucapkan salam kepadanya, berikan nasihat kepadanya jika ia meminta nasihat kepadamu, dijenguk ketika sakit, dan iringkan jenazahnya ketika telah meninggal dunia.

Penghormatan dan ucapan salam kita adalah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُه

Semoga kedamaian, rahmat Allåh, dan berkah-Nya tercurah atas kalian.

Kita tidak akan menggantikannya dengan ucapan salam yang lain; apakah dengan ahlan (selamat datang), marhaban (selamat berjumpa), kaifa ashbahta (apa kabar pagi ini), ahlan wa sahlan (selamat datang dan selamat berjumpa), atau shåbahu `l-khåir (selamat pagi). Allah Ta’ala berfirman,

تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah salam.” (Al-Ahzab:44)

Berkenaan dengan adab jika seorang Muslim bertemu dengan Muslim lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ

“Jika salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, hendaklah ia mengucapkan salam kepadanya.”[3]

Ini merupakan salam penghormatan yang diridhåi oleh Allah untuk digunakan oleh para hamba-Nya, dan juga diridhåi oleh Rasul-Nya untuk digunakan oleh para pengikut beliau dan para umat beliau sepeninggal beliau. ‘Imrån bin Hushåin pernah berkata, “Pada masa jahiliyah dahulu, kami biasa mengucapkan ’an‘ama `l-låhu bika ‘ainan dan ’an‘im shåbahan. Ketika Islam datang, kami dilarang mengucapkan salam seperti itu.”[4]

Jika demikian, maka setiap Muslim harus menggunakan bentuk salam penghormatan yang agung ini, dengan bentuk salam yang syar‘i dan sesuai dengan sunnah ini, yang diwarisi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Al-Nisa:86)

Yang dimaksud dengan penghormatan “yang lebih baik” adalah dengan menambahkan salam penghormatan yang diucapkan kepada kita. Jika ia mengucapkan assalamu’alaikum waråhmatullåh, maka jawablah wa ‘alaikumussalam waråhmatullåh wabaråkatuh. Atau, paling tidak, engkau menjawab yang sepadan, dengan mengucapkan wa ‘alaikumussalam waråhmatullåh.

Dalam riwayat Abû Dawud dan Tirmidzî -dengan sanad sahih- disebutkan riwayat dari ‘Imrån bin Hushåin bahwa ada seseorang yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan assalamu ‘alaikum. Beliau menjawabnya, lalu ia duduk. Selanjutnya beliau bersabda, “Sepuluh.”

Sesudah itu, datang pula orang berikutnya. Ia mengucapkan  Assalamu’alaikum waråhmatullåh. Beliau menjawabnya, lalu ia duduk. Selanjutnya beliau bersabda, “Dua puluh.”

Kemudian, datang pula orang yang ketiga. Ia mengucapkan Assalamu’alaikum waråhmatullåh wabaråkatuh. Beliau menjawabnya, lalu ia duduk. Selanjutnya beliau bersabda, “Tiga puluh.”[5]

Maksudnya, orang mengucapkan salam secara sempurna itu memperoleh tiga puluh kebaikan atau pahala. Inilah ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan inilah petunjuk beliau di dalam mendidik para sahabat. Perhatikanlah bagaimana beliau menanamkan sunnah itu ke dalam hati para sahabat dengan memberitahukan adanya pahala yang besar untuk mereka dari Allah Yang Maha Esa, jika saja mereka mau menerapkan ajaran-ajaran beliau dan mau berjalan di atas petunjuk beliau.

KEPADA SIAPA MENGUCAP SALAM?

Dalam beberapa kasus di antara sesama kaum muslimin yang sudah saling mengenal bahkan sering ketemu pun salam jarang terucap. Kondisi demikian tentunya parah. Ada kebiasaan yang bisa dikatakan lebih baik, namun tetap termasuk menyelisihi petunjuk Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam, petunjuk yang banyak diklaim oleh kebanyakan muslim untuk diikuti. Petunjuk Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang terbaik, dan mestinya seorang muslim tertuntut untuk mengambil dan melakukan yang terbaik. Dalam hadits dari ‘Abdullåh bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan konon pernah ada seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan Islam apakah yang terbaik?’ Beliau menjawab,

تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Engkau memberi makan, dan engkau ucapkan salam kepada orang yang sudah maupun belum engkau kenal.”[6]

Ini merupakan petunjuk Islam yang diajarkan oleh Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam sang teladan. Yaitu, kita ucapkan salam kepada kaum muslimin yang sudah dikenal maupun yang belum.

Sebagian ulama mengatakan, “Ucapan salam pada umat Islam dewasa ini hanya terbatas pada sesama mereka yang sudah kenal. Ini merupakan bagian dari tanda kiamat. Sebenarnya, yang menjadi kewajiban setiap muslim adalah menyebarkan salam di antara sesama manusia, baik kepada yang sudah atau belum dikenal; kecuali kepada ahlukitab, orang-orang musyrik dan kaum paganis. Yang dimaksud oleh hadits ini, maupun oleh hadits-hadits lainnya yang menjelaskan tentang hak-hak sesama manusia, hanya berlaku untuk sesama muslim. Jika manusia itu hidup di dalam masyarakat Islam, maka ia tertuntut untuk menyebarkan salam kepada siapa saja yang ditemuinya (karena semuanya muslim), entah yang ia kenal, seperti teman dan kerabat, maupun yang belum dikenalnya.

Yang perlu menjadi catatan kebiasaan di tengah masyarakat Islam adalah ternyata kita mengucapkan salam hanya kepada golongan yang telah dikenal. Kita saksikan orang-orang berlalu lalang di jalanan, namun mereka tidak mau mengucapkan salam kecuali kepada yang telah dikenal. Adapun kepada orang-orang yang belum dikenal, mereka tidak mengucapkan salam. Sebenarnya, ini merupakan perbuatan jahiliyah yang jelas bertentangan dengan sunnah Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shåhihain disebutkan bahwa ketika Allah menciptakan Nabi Adam alaihi sallam, maka Allah berfirman kepadanya:

اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

“Pergilah untuk menemui para malaikat yang sedang duduk itu, lalu dengarkan salam penghormatan yang mereka ucapkan kepadamu. Sebab, itu adalah salam penghormatanmu dan anak cucumu!” Adam pun pergi ke sana dan mengucapkan,  “Assalamu ‘alaikum.”  Mereka menjawab, “Assalamu ‘alaika wa råhmatullåh.” Mereka menambahkan kata wa råhmatullåh.”[7]

Ini adalah salam penghormatan yang diucapkan oleh Nabi Adam dan anak cucunya serta salam penghormatan ahli surga. Diriwayatkan oleh Abu Huråiråh bahwa Råsulullåh bersabda,

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan -menjadi- beriman (secara sempurna) sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mau melakukannya tentu kalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkan salam di antara kalian!”[8]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadits ini bahwa surga itu hanya bisa dimasuki dengan modal iman, sedangkan iman itu tidak akan lahir kecuali dengan rasa cinta, sedangkan cinta itu hanya akan muncul dengan menyebarkan salam. Penyebaran salam akan menghilangkan sikap dengki dan benci di dalam hati, khususnya terhadap karib kerabat dan tetangga.

Dalam riwayat Bukhari secara mauquf disebutkan riwayat dari ‘Ammar bin Yasir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga hal, yang barangsiapa mampu menghimpun ketiganya, ia berarti telah menghimpun iman. Ketiganya adalah berlaku adil, sekalipun terhadap diri sendiri; mengucapkan salam kepada semua orang (yang beriman); dan berinfak, meskipun dalam keadaan hanya memiliki sedikit[9] harta.”[10]

Mengucapkan salam kepada siapa saja mengandung makna sikap rendah hati seorang hamba, dan bahwa ia sama sekali tidak mempunyai sifat sombong terhadap seorang pun. Bahkan ia mau mengucapkan salam kepada anak kecil maupun orang dewasa, orang mulia maupun orang biasa; dan kepada orang yang ia kenal maupun yang tidak dikenal. Orang yang sombong adalah kebalikan darinya. Ia tidak mau menjawab salam kepada setiap orang yang mengucapkan salam kepadanya. Bagaimana mungkin ia akan memberi salam jika menjawab saja tidak mau!

Dalam Shåhihain disebutkan riwayat dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.[11]

Ini tidak lain karena sikap tawadhu‘ (rendah hati), sikap lemah lembut, dan kasih sayang beliau yang sedemikian rupa. Dengan itu, berarti beliau menumbuhkan keceriaan atau rasa senang ke dalam hati anak-anak tersebut. Sebab, mereka akan merasa mendapat penghargaan dengan salam yang diucapkan oleh Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka akan menceritakan hal itu di berbagai tempat pertemuan.

Maka dari itu, setiap Muslim berkewajiban untuk bersikap rendah hati kepada anak-anak kecil sekalipun, dan jangan berpura-pura tidak tahu keberadaan mereka hanya karena mereka masih kecil. Ucapan salam kepada mereka berarti mengajarkan cinta dan mendorong mereka untuk berakhlak yang mulia.

ADAB MENGUCAP SALAM

Kaidah dan etika dalam mengucapkan salam didasarkan pada petunjuk Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Yang kecil (muda) memberi salam kepada yang tua; yang berjalan memberi salam kepada yang duduk; yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan; dan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak.”[12]

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang muda memberi salam kepada yang tua,” mengandung suatu hikmah. Sebab, orang yang tua mempunyai hak untuk dihormati, sehingga yang muda harus terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya.

Yang muda usianya memberi salam kepada yang lebih tua. Juga dapat dianalogikan dengan hal itu adalah mendahulukan mengucapkan salam kepada orang yang berilmu, syaikh yang mulia, orang yang memiliki kedudukan dan status sosial, dan orang yang punya jasa atau kedudukan dalam Islam. Orang-orang ini haruslah diberi ucapan salam terlebih dahulu.

Selanjutnya, “…yang berjalan memberi salam kepada yang duduk.” Orang yang berjalan haruslah memulai ucapan salam kepada orang yang duduk, bukan seperti yang dilakukan oleh sebagian kalangan yang selalu saja menunggu orang yang mau mengawali ucapan salam dalam kondisi apapun, entah yang menaiki kendaraan, berjalan atau duduk. Ini adalah keliru. Dikhawatirkan pula terdapat sikap sombong  pada diri orang seperti itu. Oleh karena itu, harus diketahui aturan sunnah dalam masalah ini dan juga harus berpegang teguh dengannya, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang berjalan mengawali ucapan salam kepada orang yang duduk, karena ia adalah orang yang muncul di tempat itu, dan seringkali ia seorang diri, sedangkan yang duduk-duduk itu biasanya berjumlah banyak.

Sedangkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “..yang naik kendaraan kepada yang berjalan kaki.” Orang yang naik kendaraan mengawali ucapan salam kepada orang yang berjalan kaki. Orang yang mengendarai mobil  -misalnya-, mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, demikian juga orang yang menunggang binatang, dan seterusnya. Sebagian ulama menjelaskan adanya rahasia yang tersirat di balik ini, yaitu bahwa orang yang naik kendaraan biasanya selalu merasa angkuh, lalu Islam mengharuskannya untuk mendahului ucapan salam kepada orang yang berjalan kaki sebagai bentuk sikap rendah hati (tawadhu‘), sehingga kesombongan itu tidak masuk ke dalam dadanya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…yang sedikit kepada yang banyak.” Jika seseorang berjalan melewati sekumpulan orang, maka ia berkewajiban untuk mengawali ucapan salam. Jika lima orang berjalan melewati kumpulan sepuluh orang , yang lima mengawali ucapan salam kepada yang sepuluh; bukannya yang sepuluh mengucapkan salam kepada yang lima.

Sudah cukup mewakili jika salah seorang dari jamaah itu yang memberi salam, dan sudah cukup pula jika salah seorang di antara mereka yang duduk itu yang menjawab salam tersebut.”[13]

Disebutkan dalam riwayat Tirmidzî bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…yang berjalan memberi salam kepada yang berdiri.”[14]

Inilah adab-adab beliau, ajaran-ajaran beliau, hikmah-hikmah beliau dan keramahan beliau. Tidak ada bentuk kebaikan apa pun melainkan beliau senantiasa mendorong kita untuk melakukannya, dan tidak ada keburukan apa pun melainkan beliau selalu mewaspadakan kita untuk menjauhinya.

MENDAHULUI MENGUCAPKAN SALAM

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memulai ucapan salam kepada siapa saja yang beliau temui, dan beliau sangat berambisi untuk mengucapkannya. Ini berbeda sekali dengan orang-orang yang sombong, karena maunya hanya menanti orang lain memulai ucapan salam kepadanya. Kalau ada teka-teki bahwa sesuatu yang sunah lebih utama dari yang wajib, maka salah satu jawabannya adalah mendahului untuk mengucapkan salam. Mengucapkan salam adalah sunah, sementara menjawabnya adalah wajib. Namun Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa yang memulai adalah yang lebih baik.

” Jika ada dua orang yang sama-sama berjalan kaki, maka yang memulai dengan ucapan salam adalah lebih utama.”[15]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Orang yang paling dekat kepada Allah adalah yang lebih dahulu mengawali ucapan salam.”[16]

Maksudnya, orang yang paling dekat kepada Allah Ta’ala dan yang paling banyak mendapatkan pertolongan dan kecintaan serta sangat dekat kepada Allah adalah yang lebih dahulu mengawali ucapan salam kepada kaum muslimin. Ini adalah kebiasaan orang-orang terpilih di kalangan sahabat dan tabi‘in. Mereka selalu berlomba untuk mengawali ucapan salam kepada orang lain.

Diriwayatkan dari Kaladah bin Hanbal bahwa Shåfwan bin Umayyah pernah mengutusnya dengan membawa susu, liba’ (susu pertama yang diambil setelah binatang itu beranak), jidayah (anak rusa), dan dhåghåbis (ketimun kecil) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berada di atas lembah. Kaladah menceritakan: Aku masuk tanpa memberi salam dan tanpa meminta izin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Kembalilah lagi, lalu ucapkan assalamu ‘alaikum; bolehkah aku masuk?”[17]

Kita sebagai kaum yang mengaku bahwa Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan sejati mestinya tidak mengabaikan tuntunan beliau tersebut. Mulai kini mesti dikikis rasa pelit untuk mengucapkan salam. Agar sunah Råsulullåh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini kembali merebak, salam pun tidak menjadi barang mahal di akhir zaman ini.

Sumber : Majalah FATAWA Vol III No 11 Tahun 2008


[1]  Shåhih Muslim no. 54.

[2]  Shåĥiĥ al-Bukhåri  no. 13 dan Shåhih Muslim no. 45.

[3]  Hadits sahih. Hadits ini diriwayatkan secara mauquf dan juga marfu‘ yang berasal dari hadits Abu Huråiråh. Sanadnya yang marfu‘ tersebut adalah sanad yang sahih, seluruh perawinya tsiqåt. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (5200), Abu Ya‘lâ (6351), dan Baihaqî dalam kitab Syu‘abu `l-Îmân (8470).

[4]  Hadits hasan. Diriwayatkan oleh ‘Abdurråzzâq (X/385/19437), Abu Dawud (5227), dan Baihaqî dalam kitab Syu‘abu `l-Îmân (8502).

[5]  Sanad hadits ini sahih. Tercatat dalam Musnad Ahmad  no. 19446, Sunan Abi Dawud no. 5195, Sunan al-Tirmidzi no. 2689, dan Sunan al-Darimi no. 2640. Lihat Al-Misykât (4644).

[6]  Shåĥiĥ al-Bukhåri  no. 12 dan 28 dan Shåhih Muslim no. 39.

[7]  Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3326, 6227) dan Muslim (2841) dari Abu Huråiråh a.

[8]  Diriwayatkan oleh Muslim (54).

[9]  Kata iqtâr dalam hadits di atas –di samping bermakna qillah (sedikit), juga bisa bermakna iftiqår (membutuhkan). Dengan demikian, jika kita memilih makna yang kedua ini, maka arti hadits di atas adalah: … berinfaklah, sekalipun dalam kondisi membutuhkan. Red.

[10]  Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu‘allaq dan mauqûf pada ‘Ammâr a, seperti yang disebutkan dalam Kitâbu `l-Îmân, Bab: Menyebarkan Salam bagian dari (ajaran) Islam. Hadits ini sahih.

[11]  Shåĥiĥ al-Bukhåri  no. 6248 dan Shåhih Muslim no. 2168.

[12]  Shåĥiĥ al-Bukhåri  no. 6231 dan 6232 dan Shåhih Muslim no. 2160 dari Abu Huråiråh a.

[13]  Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5210), Abu Ya‘lâ (441) dan Baihaqî dalam As-Syu‘ab (8922) dari ‘Alî a. Lihat: Fathu `l-Bârî (XI/7) dan Al-Irwâ’ (778).

[14]  Hadits sahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzî (2705) dari Fadhålah bin ‘Ubaid a.

[15]  Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân dalam Shåhih-nya (498).

[16]  Diriwayatkan oleh Ahmad (21776), Abu Dawud (5197), dan Tirmidzî (2694) dari Abu Umâmah a. Lihat, Al-Misykât (446).

[17]  Hadits sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (13999), Abu Dawud (5176), dan Tirmidzî (2710). Lihat Al-Misykât (4671).

 

Categories: Artikel

Leave a Reply


  • Radio Streaming