Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

Apabila Ada Kesamaran Antara Air  Yang Suci Dengan Air Najis

Dalam  masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur dari kalangan ulama’ kaum muslimin:

1.Pendapat pertama:

Diharamkan pemakaiannya dan tidak berusaha  mencari dengan sungguh-sungguh air manakah  yang disangka kuat sebagai air yang suci.

Hal ini adalah karena meninggalkan najis adalah wajib dan tidaklah sempurna meninggalkan najis kecuali dengannya.

Dalilnya adalah:

1.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada seseorang yang berburu lalu binatang buruannya masuk ke dalam air:

“ Jika engkau menjumpai buruanmu tenggelam di air maka janganlah engkau memakannya, sebab engkau tidak mengetahui apakah air yang membunuhnya ataukah panahmu”[H.R.Bukhari:5484]

2.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada seseorang yang berburu:

‘’ Jika engkau menjumpai anjing yang lain bersama anjingmu maka janganlah engkau memakannya karena engkau tidak mengetahui manakah di antara dua anjing tersebut  yang membunuhnya” [H.R.Bukhari:5484]

2.Pendapat kedua:

Berusaha  mencari dengan sungguh-sungguh manakah air yang disangka kuat sebagai air yang suci.

Ini adalah pendapat imam  Syafi’iy dan pendapat yang lain dari imam Ahmad.

Dalilnya adalah:

Hadits Ibnu Mas’ud dalam masalah keraguan dalam shalat,Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“ Apabila ragu  salah seorang di antara kalian maka hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh mendapatkan yang benar kemudian membangun shalatnya di atasnya” [H.R.Bukhari:401]

Dalam kaedah ushul dikatakan:

إذا تعذر اليقين رجع إلى غلبة الظن

“Apabila tidak mungkin didapatkan sesuatu yang yakin , dikembalikan kepada sangkaan yang kuat”.

Pendapat yang kuat:

Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua karena argumennya lebih kuat.

 

Wallahu a’lam bi ash shawab

Diselesaikan tulisan singkat  ini oleh hamba Allah

Abu Qushaiy al Anwar

Di  Ma’had Jamillurrahman

Bantul – Yogyakarta

Categories: Artikel, Fiqih

Leave a Reply


  • Radio Streaming