Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

Segala puji bagi Allah-ta’ala- yang telah menciptakan kita sebagai hambaNya yang hidup di dunia ini, dengan di berikan segala fasilitas yang kita butuhkan sebagai penopang kehidupan di dunia ini, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabiNya yang mulia Muhammad –shollallahu ‘alaihi wasallam- yang telah membimbing umat manusia dengan risalahNya dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran, dari jalan kegelapan menuju jalan hidayah.

Saudaraku umat islam yang di rahmati Allah –ta’ala-, doa adalah satu kata yang tidak asing lagi bagi manusia secara umum dan bagi umat islam secara khusus karena, hampir setiap orang paling  tidak  pernah berdoa, akan tetapi sayang kebanyakan orang tidak tahu tentang hakekat doa, kedudukan, hukum, tata cara, dan adab-adabnya, maka berikut ini saya akan mencoba untuk menjelaskan permasalahan ini sesuai dengan kemampuan saya semoga bermanfaat.

  1. Hakekat doa

 

Doa[permohonan] yang kita panjatkan kepada Allah adalah merupakan suatu ibadah yang di syareatkan dan orang yang melakukannya akan mendapatkan ganjaran dari Allah –ta’ala-, sebagaimana yang telah di sabdakan Rasulullah –shollallahu’alaihiwasallam-:

 

الدعاء هو العبادة” رواه ابوداود والترمذ والنسائى وابن ماجة 

 

Artinya:” Doa itu adalah ibadah”   [HR.Abu Dawud, Tirmidzi, An-nasai dan Ibnu Majah]

 

Di karenakan doa itu adalah ibadah maka tidak boleh di tujukan kepada selain Allah, maka barang siapa yang berdoa kepada selain Allah dia telah melakukan syirik besar dan apabila meninggal dalam kondisi belum bertobat maka akan masuk ke dalam neraka, sebagaimana yang telah nabi sabdakan:

 

“من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار”       

Artinya: “barang siapa yang mati dalam keadaan telah berdoa kepada selain Allah maka masuk neraka” [HR. Albukhori]

 

  1. Hukum berdoa

 

Bagi setiap hamba diwajibkan untuk berdoa kepada Allah-ta’ala-, dan barang siapa yang enggan untuk berdoa kepada Allah maka dia berdosa. Allah –ta’ala- Berfirman:

Yang artinya:  Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[a] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.[QS.Al-mu’min:60]

 

Dalam ayat ini orang yang enggan berdoa kepada Allah di sebut menyombongkan diri, ini sangat jelas menunjukkan wajibnya berdoa kepada Allah dan haramnya meninggalkan.

 

Orang yang di anggap menyombongkan diri disini ada dua:

 

Pertama: orang yang tidak mau berdoa kepada Allah sama sekali, orang model ini di katakana sombong karena seakan-akan dia merasa cukup dengan kemampuannya sendiri dan tidak butuh dengan pertolongan Allah-ta’ala-.

 

Kedua: orang yang tidak mencukupkan doa hanya kepada Allah saja akan tetapi masih juga berdoa kepada selain Allah –ta’ala-, dia merasa tidak cukup berdoa hanya kepada Allah saja dan itu jelas merendahkan Allah –ta’ala-, karena seakan-akan menganggapNya tidak mampu mengabulkan doa hamba Nya tanpa ada bantuan dari yang selain Dia, Maha Suci Allah dari anggapan yang demikian, Dia adalah Sang Pencipta jagat raya ini, Maha Mampu untuk mengabulkan segala permohonan hamba-hambaNya.

 

Dan Allah Murka kepada orang yang enggan berdoa kepadaNya, sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadits dari sahabat Abi Hurairah-radhiyallahu ‘anhu-, bahwa rasulullah –shollallahu’alaihiwasallam- bersabda:

 

“barang siapa tidak mau meminta kepada Allah maka Allah murka kepadanya”[HR.At-tirmidzi]

 

  1. Doa itu pasti di kabulkan

 

Setiap doa yang di panjatkan oleh seorang hamba kepada Allah itu asalnya pasti akan di kabulkan selama tidak ada penghalang yang menghalangi terkabulnya doa.

 

Allah –ta’ala- berfirman yang artinya:

.Artinya:   Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankanbagimu……”[QS. Almu’min:60]

 

Di dalam ayat ini Allah-ta’ala- memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya, dan memberi jaminan akan mengabulkan doa.

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah –shollallahu’alaihi wasallam- bersabda; “sesungguhnya Allah itu Dzat yang Hidup lagi Pemurah, Dia merasa malu bila ada seseorang mengangkat kedua tangannya[berdoa kepadaNya] untuk menolak doanya”[HR.Abu Dawud dan At-tirmidzi]

 

Dalam hadits ini juga menjelaskan bahwa doa seorang hamba kepada Allah –ta’ala- itu pasti akan  dikabulkan, karena disebutkan dalam hadits ini bahwa Allah malu menolak doa hambaNya.

 

Akan tetapi perlu kita fahami tentang apakah arti terkabulnya doa itu?

 

Terkabulnya doa itu adalah apa yang di sebutkan oleh rasulullah dalam sebuah hadits dari shahabat Abi Sa’id A-khudry –rhadiyallahu’anhu- bahwa Nabi-shollallahu’alaihiwasallam- bersabda:

 

“Tidaklah seorang muslim itu memanjatkan sebuah doa dalam keadaan tidak berbuat dosa, dan tidak memutuskan silaturahmi melainkan Allah pasti akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: bisa jadi di segerakan terkabul doanya, bisa jadi di jadikan simpanan untuknya di akhirat, atau dia di hindarkan dari kejelekan[yang nilainya sama dengan di kabulkan sesuai dengan permintaannya]”. [HR.Ahmad, Al-bazar, Abu Ya’la, dan Al-hakim]

 

Berdasarkan hadits di atas, maka bisa di ambil kesimpulan bahwa terkabulnya doa itu ada tiga kemungkinan:

 

Pertama: Di segerakan di dunia sesuai permintaan yang di inginkan, maka mayoritas manusia menginginkan model yang pertama ini.

Mereka sangat bergembira jika keinginannya di kabulkan, dan tidak senang bila tidak di kabulkan sesuai keinginannya.

 

Padahal manusia tidak mengetahui manakah yang lebih baik untuk dirinya, apakah terkabul sesuai keinginannya, atau justru yang terbaik adalah kebalikannya, dan Allah –ta’ala- Maha Mengetahui semuanya.

 

Betapa banyak perkara yang kita senangi tetapi ternyata itu tidak baik bagi kita, dan betapa banyak perkara yang kita benci tetapi ternyata merupakan kebaikan bagi kita.

 

Allah –ta’ala- berfirman:

 

Yang artinya:           boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.[QS.Al-baqoroh: 216]

 

Kedua: Allah jadikan sebagai simpanan untuknya di akhirat, artinya Allah akan mengabulkan doanya itu dengan balasan yang sangat besar di akhirat nanti.

 

Tentunya bagi seorang mukmin ini lebih dia senangi dari pada terkabulnya doa dia di dunia sesuai permintaan, karena seorang mukmin itu mengetahui dan meyakini bahwa kenikmatan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal di bandingkan dengan kenikmatan dunia.

 

Allah-ta’ala- berfirman:

 

(والأخرة خير وأبقى)

Artinya:  Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.[QS. Al-A’la: 17]

Ketiga: Allah –ta’ala- menghindarkannya dari suatu kejelekan.

Kejelekan di sini bisa berupa musibah, penyakit, kehilangan harta, atau perbuatan dosa dll.

Sehingga ketika seorang hamba berdoa kepada Allah –ta’ala-hendaknya dia yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya, hanya saja harus di fahami bahwa terkabulnya doa itu ada tiga kemungkinan seperti yang di sebutkan di atas. Dan harus di yakini bahwa Allah lebih mengetahui yang manakah yang terbaik untuk di kabulkan bagi seorang hamba yang berdoa kepadaNya.

Demikian penjelasan singkat tentang doa semoga bermanfaat bagi kita semua washolallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa’ala alihi washohbihi ajma’in.

 

 

Di susun oleh: Abu Zainab(Muslam)

Referensi:

  1. Mushaf Alquran terjemah
  2. Kitab Tazkiyyatunnufus Dr.Ahmad Farid.
Categories: Artikel, Fiqih

Leave a Reply


  • Radio Streaming