Radio Majas

Media ilmu tadabbur kalam ilahi

Tatkala hati disifati dengan hidup dan disifati pula dengan lawannya (mati), maka hati terbagi menjadi 2 keadaan :

 

  1. Hati yang sehat

Seseorang tidak akan selamat di hari kiamat kecuali dengan hati yang selamat tersebut, sebagaimana firman Allah ta’ala :

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

 

Hati dikatakan sebagai hati yang selamat karena “ keselamatan”  menjadi sifat yang terpatri dengan  kokoh di hati tersebut.

 

Banyak perbedaan ungkapan manusia berkenaan makna dari “hati yang selamat” ini. Ada yang mengartikan “hati yang selamat” adalah hati yang selamat dari segala macam syahwat (keinginan) yang menyelisihi perintah serta larangan Allah dan selamat dari berbagai syubhat yang menyelisihi khabar Allah ta’ala. Ada pula yang mengartikan  selamat dari peribadahan kepada selain Allah dan selamat dari berhukum dengan selain hukum Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

 

Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari segala macam tujuan yang ditujukan kepada selain Allah dan segala hal yang terdapat kesyirikan di dalamnya. Bahkan hati yang selamat  adalah hati yang memurnikan peribadahannya hanya untuk Allah semata baik berupa keinginan, kecintaan, tawakkal, rasa khusyu’, rasa harap dan sebagainya. Ia mengikhlaskan serta memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah semata. Sekiranya ia cinta, maka cintanya itu karena Allah. Sekiranya ia marah , maka marahnya karena Allah. Jika memberi, maka memberi karena Allah. Jika menahan sesuatu, maka menahannya karena Allah. Dan semuanya ini tidaklah dikatakan cukup, sehingga hati tersebut benar-benar selamat dari apa yang bertentangan dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. baik berupa keyakinan maupun hukum. Ia  bersandar secara sempurna dalam berhukum dan mengikuti teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal akidah, perkataan, maupun perbuatan sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Yaitu : janganlah kalian berucap sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap dan janganlah beramal sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya.

 

 

Sebagian ulama salaf berkata : “Tidaklah ada suatu amalan sekecil apapun yang diamalkan seseorang kecuali akan ada padanya 2 pertanyaan, untuk apa ? dan bagaimana ? yaitu:  kenapa engkau melakukan ini ? dan bagaimana engkau melakukannya ?”

 

Yang pertama, adalah pertanyaan tentang apa yang menyebabkan amalan tersebut diamalkan, apa pendorong seseorang untuk melakukannya. Intinya , apakah engkau melakukan amalan ini untuk Rabb-mu atau untuk tujuan hawa nafsumu?

Yang kedua, adalah pertanyaan tentang meneladani Rasulullah dalam amalan atau peribadahan. Yaitu, apakah engkau mengamalkan ini sesuai dengan apa yang disyari’atkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah engkau beramal dengan amalan yang tidak disyari’atkan dan tidak diridhai olehNya shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jadi soal pertama berkenaan dengan ikhlas dan yang kedua berkenaan mutaba’ah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah tidaklah menerima amalan kecuali dengan keduanya (ikhlas dan mutaba’ah). Bersihnya hati dari keinginan yang bertentangan dengan ikhlas dan bertentangan dengan mutaba’ah adalah hakikat selamatnya hati yang padanya terkandung kesuksesan dan kebahagiaan seorang hamba.

 

  1. Hati yang mati

Adalah hati yang tidak ada kehidupan padanya. Hati tersebut tidak mengenal siapa Rabb-nya. Tidak beribadah kepadaNya dengan apa-apa yang yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya. Bahkan hati tersebut berjalan di atas syahwat dan kelezatannya tidak memandang apakah itu dimurkai Allah ataukah dibenci Allah. Ia tidak peduli, yang penting sukses tanpa memandang apakah dengan syahwatnya, keinginannya, ridho Rabb-nya ataukah murka-Nya. Hati yang seperti ini tidaklah menghambakan dirinya kepada Allah ta’ala, baik itu rasa cinta, harapan, rasa takut, keridhoan, murka karena-Nya, benci karena-Nya, dan penghinaan diri kepada-Nya. Jikalau ia mencintai maka mencintai karena syahwatnya. Jika memberi maka memberi karena hawa nafsunya. Membencipun karena keiginan nafsunya semata. Maka hawa nafsunya lebih ia dahulukan dan ia cintai dari pada keridhaan Rabb-nya. Maka jadilah hawa nafsunya itu sebagai imam baginya, syahwat sebagai tempat duduknya, kebodohan sebagai supirnya dan kelalaian sebagai kendaraannya. Dengan kekufurannyalah ia menggapai tujuan-tujuan dunianya dan dengan hawa nafsu serta cinta terhadap angan-angan ia pun menjadi mabuk. Ia diseru untuk kembali ke jalan Allah dan kampung akhirat dari tempat yang sangat jauh, ia pun tidak menerima mau nasehat, bahkan ia mengikuti setiap keinginan syaithan yang terkutuk. Maka pemilik hati yang seperti ini adalah orang yang sakit, bergaul dengannya bagaikan racun, dan duduk dengannya membawa kehancuran.

 

 

Wallahu a’lam bish shawab

 

Disadur dari Ighatsah Lahafan, karya Ibnu Al Qayim

Oleh: Santri kelas 3 I’dad Du’at Jamilurrahman

Categories: Artikel

Leave a Reply


  • Radio Streaming